Saya mengenal beliau semenjak sama-sama menjadi kapten. Saya dari Wamil, beliau dari Akabri. Kami berpisah ketika saya menjadi Walikota Padang.
Saya menumpang beribu ke beliau, karena ibu saya sudah tiada. Pernah suatu kali beliau bercerita ke saya bahwa Ibu beliau tidak mau ke Jakarta, karena di kompleks tempat kami tinggal tidak ada masjid.
Ibu beliau berpesan agar membangun masjid di depan rumah kami. Memang di depan rumah kami ada tanah kosong seluas 1,5 hektar, dialokasikan untuk tempat tinggal para Pati (perwira tinggi), di antaranya bahkan ada yang berbintang empat.
(Rel)

0 Komentar